Halaman

Rabu, 29 Januari 2014

LAPORAN ORNITHOLOGI PENGAMATAN BURUNG (Birdwatching)



HASIL PENGAMATAN

A. Ekosistem Persawahan Perum UNS Triyagan IV, Mojolaban, Sukoharjo
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Pycnonotus aurigaster
nama lain: kutilang
sedikit
2
Prinia inornata blanfordi
nama lain: prenjak padi
banyak
3
Paser montanus
nama lain: gereja erasia
banyak
4
Coturnix chinensis
nama lain: puyuh batu
sedikit
5
Lonchara maja
nama lain: bondol haji
sedikit
6
Amandava amandava
nama lain: pipit benggala
banyak
7
Apus affanis
nama lain: kapinis rumah
sedang
8
Lanchura leucogastroides
nama lain: bondol jawa
sedikit



B. Ekosistem Perumahan Jebres, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Collocolia esculenta
nama lain: walet sapi
Sedang
2
Passer montanus
nama lain: gereja erasia
Sedang
3
Columba livia
nama lain: merpati
Sedang
4
Lonchura leucogastroides
nama lain: bondol jawa
Sedang
5
Ardeofa spesiosa
nama lain: blekok sawah
Sedikit
6
Pycnonotus aurigaster
nama lain: kutilang
Sedang

C. Ekosistem Pepohonan FKIP UNS, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Collocolia esculenta
nama lain: walet sapi
banyak
2
Passer montanus
nama lain: gereja erasia
sedikit
3
Collocalia fuciphaga
nama lain: walet sarang putih
sedikit
4
Corvus unicolor
nama lain: gagak banggai
banyak
5
Hirundo tahitica
nama lain: layang-layang batu
sedikit

D. Ekosistem Terminal Tertonadi, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Columba livia
nama lain: merpati
sedikit
2
Collocalia esculenta
nama lain: walet sapi
banyak
3
Passer montanus
nama lain: gereja erasia
sedang
4
Lonchura leucogastroides
nama lain: bondol jawa
sedikit
5
Streptopelia bitorquata
nama lain: dederuk jawa
sedikit

E. Ekosistem Kebun Teh, Kemuning
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Streptopelia chinensis
nama lain: tekukur
sedikit
2
Lanius schach
nama lain: bentet kelabu
sedang
3
Todirhamphus chloris
nama lain: cekakak sungai
sedikit
4
Pycnonotus aurigater
nama lain: cucak kutilang
sedang
5
Collocalia esculenta
nama lain: walet sapi
banyak
6
Lanius cristatus
nama lain: bentet coklat
sedikit
7
Apus affinis
nama lain: kapinis rumah
banyak
8
Pycnonotus aurigater
nama lain: cucak kutilang
sedang
9
Cacomantis merulinus
nama lain: pipit ganthil
banyak

F. Ekosistem Sungai Bengawan Solo, Pucang Sawit, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Lonchura leucogastroides
nama lain: bondol jawa
banyak
2
Collocalia esculenta
nama lain: walet sapi
banyak
3
Columba livia
nama lain: merpati
sedikit


G. Ekosistem Perumuhan Karanganyar
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Streptopelia chinensis
nama lain: derkuku
sedang
2
Collocalia esculenta
nama lain: walet sapi
banyak
3
Lonchura leucogastroides
nama lain: bondol jawa
banyak
4
Bubulcus ibis
nama lain: kuntul kerbau
sedang

H. Ekosistem Taman Balai Kambang, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Pycnonotus aurigaster
nama lain: kutilang
sedikit
2
Paser montanus
nama lain: gereja erasia
sedang
3
Apus affanis
nama lain: kapinis rumah
banyak
4
Prinia familiaris
nama lain: prenjak jawa
sedikit

I. Ekosistem Barat FSSR UNS, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Apus apus
nama lain: walet
banyak
2
Pycnonotus aurigaster
nama lain: kutilang
sedang
3
Passer montanus
nama lain: gereja erasia
sedang

J. Ekosistem Taman Urban Forest Pucang Sawit, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Collocalia linchi
nama lain: walet linchi
banyak
2
Dicaeum trochileum
nama lain: cabe jawa
sedang
3
Todirhampus chloris
nama lain: cekakak sungai
sedikit
4
Prinia polychroa
nama lain: perenjak coklat
sedikit
5
Cacomantis merulinus
nama lain: wiwik kelabu
sedikit
6
Cacomantis sepulclaris
nama lain: wiwik uncuing
sedikit

K. Ekosistem FK UNS, Surakarta
No
Nama spesies
Jumlah populasi
1
Collocalia linchi
nama lain: walet linchi
banyak
2
Pycnonotus aurigaster
nama lain: kutilang
banyak
3
Dicaeum trochileum
nama lain: cabai jawa
sedang
4
Lonchura punctulata
nama lain: pipit
sedang
5
Halcyon cyanoventris
nama lain: cekakak jawa
sedikit
6
Passer montanus
nama lain: gereja erasia
banyak
7
Apus sp.
nama lain: sriti
sedang
8
Todirhamphus chloris
nama lain: cekakak sungai
sedikit
9
Aegithina tiphia
nama lain: cipoh kacat
sedikit
10
Cypsiurus balasiensis
nama lain: walet palem asia
sedang
11
Streptopelia chinensis
nama lain: tekukur
sedikit
12
Lanius schach
nama lain: bentet kelabu
sedikit
13
Columba livia
nama lain: merpati
sedikit
                                                                                                                                                    



L. PENGAMATAN BURUNG KAWASAN WADUK MULUR, KABUPATEN SUKOHARJO

No
Nama lokal
 Nama ilmiah
Jumlah
1
Walet Sapi
Collocalia esculenta
Banyak
2
Bondol Jawa
Lonchura leucogastroides
Banyak
3
Cekakak Sungai
Halcyon chloris
Sedikit
4
Kutilang
Pycnonotus aurigaster
Banyak
5
Bambangan Coklat
Ixobrychus eurhythmu
Sedang
6
Mandar Batu
Gallinula chloropus
Sedikit
7
Kuntul Kerbau
Bubulcus ibis
Sedang
8
Blekok Sawah
Ardeola speciosa
Sedikit
9
Tekukur biasa
Streptopelia chinensis
Sedang
10
Bentet Kelabu
Lanius schach
Sedikit
11
Wiwik Kelabu
Cacomantis merulinus
Sedikit
12
Gereja Erasia
Passer montanus
Banyak
13
Cabe Jawa
Dicaeum trochileum
Sedikit
14
Cabe Gesit
Dicaeum agile
Sedikit
15
Prenjak Padi
Prinia inornata
sedikit





PEMBAHASAN

            Pada pengamatan burung (birdwatching) ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman penyebaran spesies burung yang menghuni suatu ekosistem. Persebaran  jenis  burung  dipengaruhi oleh  ketersediaan  pakan,  perilaku  makan dan  perilaku  hidup,  makanan, air, pelindung,  dan ruang lingkup merupakan kebutuhan  yang  penting  bagi  kehidupan burung yang terbentuk dalam suatu habitat  (Abas,1980). Pengamatan ini dilakukan dengan mengambil beberapa sampel ekosistem seperti persawahan, perumahan, dan wilayah perairan.
            Pengamatan burung di ekosistem persawahan banyak didominasi burung pemakan biji seperti  prenjak padi (Prinia inornata blanfordi), gereja erasia (Paser montanus) dan pipit benggala (Amandava amandava). Burung-burung tersebut paling dominan di wilayah persawahan karena dipengaruhi tersedianya makanan yang cukup. Burung seperti prenjak padi dan pipit benggala banyak ditemukan di ekosistem persawahan karena kebiasaannya yang suka makan biji padi.
Burung yang menghuni ekosistem perumahan keanekaragaman spesiesnya lebih sedikit. Hal tersebut dapat dipengaruhi karena sedikitnya pohon dan kurangnya ketersedin makanan. Keanekaragaman dan keseimbangan jenis burung yang ditemui berhubungan  dengan  banyaknya  lapisan tajuk tumbuhan di suatu ekosistem (Hel vort,  1984). 
Pengamatan yang dilakukan pada ekosistem dekat perairan seperti bengawan Solo, taman urban forest dan wilayah waduk mulur banyak terdapat spesies yang khas seperti cekakak sungai (Todirhampus chloris). Spesies tersebut sering ditemukan di wilayah dekat sungai karena burung tersebut tipe burung pemakan ikan dan udang.
Pengamatan burung yang dilakukan dilingkungan kampus maupun taman-taman perkotaan burung yang mendominasi seperti cucak kutilang, cabe, dan gereja erasia. Burung-burung tersebut keanekaragamannya masih cukup banyak. Burung Cabe jawa ini mudah ditemui karena kebiasaannya yang suka hinggap di pohon-pohon yang rindang dan terutama yang terdapat benalunya. Burung tersebut suka makan biji benalu dan biji karsen. Cucak kutilang ini juga burung yang mudah ditemukan dierbagai tempat karena kebiasaannya sering terbang maupun bertengger secara berkelompok dan mengeluarkan suara yang berisik. Burung tersebut tipe burung pemakan buah, jadi banyak ditemukan di daerah yang terdapat pohon berbuah.
Bailey  (1984)  menyatakan  bahwa  kelengkapan  habitat  terdiri  dari berbagai jenis termasuk makanan, perlindungan dan faktor lain yang diperlukan oleh jenis  satwa  untuk  bertahan  hidup.  Beberapa  faktor  yang  menentukan  keberadaan burung  adalah  ketersediaan  makanan,  tempat  untuk  beristirahat,  bermain, berkembang biak, bersarang, bertengger, dan berlindung. Untuk hidup di dalam suatu habitat, burung memerlukan syarat-syarat tertentu seperti kondisi habitat yang cocok, baik, dan aman dari segala gangguan (Ontario et al. 1991).
Kekayaan jenis burung di suatu tempat tidak tersebar merata tetapi tinggi di beberapa habitat tertentu danrendah di habitat lainnya (Sujatnika  et al.1995). Krebs (1978)  menyebutkan  bahwa  ada  6  faktor  penting  yang  berkaitan  dengan keanekaragaman  jenis  suatu  komunitas  yaitu  waktu,  keragaman,  ruang,  persaingan, pemangsaan  dan  kestabilan  lingkungan  serta  produktivitas. Selain  itu,  stratifikasi tajuk juga  merupakan  faktor  yang  mempengaruhi  keanekaragaman  jenis  burung (Sayogo, 2009). Penutupan tajuk, tinggi tajuk, dan keanekaragaman jenis pohon juga menentukan keanekaragaman jenis burung di suatu tempat.
Burung walet (Collocalia sp.) merupakan jenis burung yang banyak ditemukan diberbagai ekosistem. Burung ini makan serangga kecil, memiliki kebiasaan jarang bertengger. Burung yang banyak ditemukan selain walet yaitu burung gereja erasia. Gereja erasia (Passer montanus) merupakan jenis burung yang mudah ditemukan diberagai ekosistem. Kebiasaannya adalah berasosiasi dekat dengan manusia. Hidupnya berkelompok di sekitar rumah ataupun gudang. Kala mencari makan ia berada di tanah dan lahan pertanian dengan mematuki biji-biji kecil atau beras.
Burung gereja-erasia (Passer montanus) yang bagi sebagian orang dianggap biasa, memiliki kelebihan tersendiri. Kemampuannya berkoloni dan bandel karena tidak alergi dekat manusia atau diistilahkan human dominated ecosystem adalah keistimewaannya. Tak heran, jika jenis ini paling banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia.
Selain tujuan dan manfaat yang telah disebutkan, RTH kota juga merupakan salah  satu  komponen  habitat  berbagai  jenis  satwaliar  terutama  burung.  Menurut Prasetyo dan Hernowo (1990), jenis-jenis burung yang umumnya dijumpai pada RTH kota  di  Pulau  Jawa  diantaranya  cabe  jawa (Dicaeum  trochileum),  perenjak jawa (Prinia familiaris),  dan bondol jawa (Lonchura  leucogastroides).  Sedangkan  beberapa  jenis  burung  tipe  perkotaan  yaitu gereja  erasia  (Passer  montanus),  layang-layang  batu  (Hirundo  tahitica),  dan  perenjak  jawa  (Prinia  familiaris)  (Ontario  et  al. 1991).
Van Balen (1999) menjelaskan bahwa gangguan terhadap burung disebabkan oleh  tekanan  pertumbuhan  populasi  manusia  sehingga  berpengaruh  juga  terhadap kelimpahan  dan  distribusi  burung-burung  di  hutan.  Besarnya  jumlah  penduduk  dan meningkatnya eksploitasi terhadap sumberdaya  yang memiliki nilai ekonomi, maka tidak  dapat  dipungkiri  bahwa  hutan  didesak  sampai  ke  puncak  gunung  yang  paling tinggi, burung-burung diburu untuk dimakan, untuk olahraga atau dijual (MacKinnon et al. 1998).

           
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil data dari pengamatan burung diberbagai ekosistem terdapat keanekaragaman jenis burung yang berbeda-beda. Jenis burung yang banyak ditemui diberbagai ekosistem antara lain gereja erasia, cucak kutilang dan jenis burung walet. Jenis burung yang menghuni suatu ekosistem salah satu faktor yang mempengaruhi adalah ketersediaan makanan.



           



DAFTAR PUSTAKA

Abas,  Y.  1980.  Inventarisasi  Satwa  Burung dan  Studi  Pengetahuan Habitat Ter-
hadap Populasi  dan   Keragaman  Jenis   Burung  di  Taman  Nasional   Gu- nung Gede  Pangrango.    Departemen   Manajemen  Hutan,    Fakultas Kehu-tanan Institut  Pertanian  Bogor. Tidak diterbitkan.

Helvort, V.B. 1981. A  Study  on  Bird  Population  in  The  Rural  Ecosystem of  West
Java, Indonesia a  Semi  Quantitative  Approach.  Nature  Conservation Dept. Agriculture University Wageningen-The Netherand.International  Union  Conservation  of  Natural  and  Natur  Reserve  (IUCN). 2007.  Red  List  Data  Book  of  Endangered Species. USA.
Krebs CJ. 1978. Ecology: The  experimental  analysis  of distribution and abundance.
 Harper & Row Publishers, New York.
MacKinnon, J., Karen P.  dan   B. van  Balen. 1998.  Burung-burung  di  Sumatera,
 Jawa,  Bali  dan  Kalimantan. Seri  Panduan  Lapangan,  LIPI  –Birdlife.
Sujatnika, Jepson P, Soehartono TR, Crosby MJ       dan      Mardiastuti A, 1995. Melestarikan Keanekaragaman Hayati Indonesia: Pendekatan Daerah Burung Endemik. Jakarta: PHPA/ BirdLife International-Indonesia Programme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar